|
Apa itu Resensi?
Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
|
|
|
| |
15 Jan 2013 - 20:25:24
Isi Resensi : Bagaimana rasanya memiliki tubuh yang besar alias gendut ditambah kenyataan pahit : tak pernah bisa kurus meskipun olahraga mati-matian dan diperkirakan akan berumur pendek? Hanya akan mencapai usia kurang lebih 25 tahun. Bayangkan. Pasti siapapun yang mengalaminya, akan merasa sedih luar biasa. Bahkan, tak jarang menimbulkan rasa frustrasi yang berkepanjangan lalu muncul ide : ingin bunuh diri. Berharap penderitaan ini akan berakhir.
Apalagi bagi seorang wanita yang biasanya lebih memperhatikan penampilan fisiknya ketimbang pria. Bertubuh gendut tanpa bisa menjadi kurus tentulah merupakan malapetaka besar. Tetapi apa yang dilakukan tokoh Gusni dalam menghadapi kenyataan pahit itu membuat saya salut lut lut…. Salut pada perjuangannya, kegigihannya dan sifat pantang menyerahnya. Walau hanya tokoh rekaan tetapi kisahnya seolah-olah nyata. Sosoknya seakan hadir saat saya membaca bab demi bab.
Terlebih saat membaca bab yang menguraikan jalannya pertandingan bulutangkis. Rasanya, seperti saya yang lagi bertanding. Ikut mengayunkan raket dan menepuk si KOK . Ikut merasakan nyeri dan lelah yang luar biasa. Dan, ikut merasakan deg-degan. Seolah-olah saya sedang menjadi Gusni, sekaligus menjadi para penonton (orang tua Gusni dan para pendukungnya).
Sungguh novel yang sangat keren. Sepuluh jempol buat penulisnya. Kok bisa gitu menciptakan sebuah kisah anak manusia dengan segala kekurangannya namun tetap berusaha tegar dan terus berjuang tak kenal lelah.
Belum lagi, kalimat-kalimat berbau humor yang banyak tertera di dalamnya. Membuat saya larut dalam perjuangan Gusni. Tangis, tawa, perjuangan dan semangat merah putihnya bagai anggur yang memabukkan. Dan, saya pun tak henti membacanya dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Berkali-kali tegang sendiri, berkali-kali merasa tak sabar ingin segera mengetahui akhir kisahnya, berkali-kali terharu dan meneteskan air mata, berkali-kali tertawa ketika ada kalimat lucu yang menyelip daaan….berkali-kali menyerukan WOW!
Ketika akhirnya novel ini tuntas saya lahap, saya pun yakin seyakin-yakinnya. Novel ini jauh lebih bagus daripada 5 cm. Nggak nyesel deh sudah membeli novel ini. Saking nggak nyeselnya, saya jadi nggak sabar menantikan karya Donny yang berikutnya. Dan, berharap novel ini pun segera difilmkan seperti novel 5 cm.
Walaupun begitu, tetap saja tak ada yang sempurna dalam sebuah karya. Demikian pula dengan novel ini. Deskripsi mengenai permainan bulutangkis meskipun seru tetap saja membuat saya sering membaca cepat (tanpa menghayati) bagian tersebut. Soalnya, jadi seperti mendengarkan siaran berita pertandingan bulutangkis yang membosankan. Tetapi secara keseluruhan novel ini layak dibaca. |
|
| |
[Semua Resensi Buku Ini] |
|