|
Apa itu Resensi?
Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
|
|
|
| |
14 Des 2007 - 13:30:31
Isi Resensi : Musuh #1 Para Wanita
Ephron mengawali karirnya dengan menuliskan hal-hal yang biasanya tidak berani diutarakan para wanita. Dalam novel Heartburn, Nora seolah memfiksikan kemarahannya, ketika suaminya Carl Bernstein beselingkuh. Dalam film When Harry Met Sally, Ephron mengungkapkan fakta bahwa wanita sering berpura-pura bisa mencapai orgasme. Kini Ephron kembali dengan sesuatu yang bisa membuat kita tertawa, sebuah pandangan yang kocak dan menyegarkan.
“Kau bisa memberi makeup wajahmu,” tulis Ephron di buku barunya, I Feel Bad About My Neck, “menyembunyikan kantung mata, dan mencat rambut. Kau bisa menyuntikkan collagen atau Botox dan Restylane untuk menghilangkan kerutan di wajahmu, namun operasi semacam itu, tidak akan pernah dapat kau lakukan pada lehermu.” Dalam bukunya, Ephron menuliskan bahwa tidak seorang pun megakui peranan bahan kimia dalam sejarah modern pergerakan wanita. “Alasan kenapa wanita yang berumur 40, 50, dan 60 terlihat lebih muda,” tulis Ephron, “bukan karena feminisme atau kehidupan yang lebih baik dengan berolahraga, namun itu karena mereka mencat rambut. Pada tahun 1950-an, hanya 7% dari wanita Amerika yang mencat rambut mereka; tapi kini tidak pernah lagi kita lihat di Manhattan dan Los Angeles wanita yang beruban.”
Kala makan malam di jantung Beverly Hills, di tengah para wanita yang memiliki rambut cokelat sepanjang masa. Ephron tampil dengan mantel bulu hitam, rambut model bob dicat coklat, scarf abu-abu, serta kaca mata hitam. Hampir seluruh tubuhnya tertutup, kecuali pipi pucat dan mulut tajamnya.
“Ada sebuah sebuah konspirasi besar yang berusaha menutupi kebohongan ini,” ujar Ephron ketika menyendok makanan. “Aku sudah lelah melihat kebodohan ini, buku penyemangat penuaan. Bahkan mereka memberikan tips bagaimana cara mendapatkan seks yang hebat saat kau berumur enam puluh atau tujuh puluh. Semua itu menurutku sampah.”
Walaupun Ephron adalah contoh wanita New York yang pintar, yang sepertinya tidak akan menemukan kesulitan jika harus berdebat, tapi Ephron adalah seorang wanita penuh kasih sayang, anak tertua dari empat orang bersaudara. Orang tuanya, Henry dan Phoebe adalah penulis skenario yang sukses. Namun mereka menjadi alkoholik di tahun-tahun terakhir hidup mereka. Adik-adiknya, Delia dan Amy juga menjadi penulis sukses.
Suatu hari pada akhir tahun 1950, Pheboe Ephron menjelaskan kepada anak-anaknya tentang apa yang harus mereka lakukan dalam hidup. “Di mata kami, ibu pekerja keras, yang kami pahami dari beliau adalah, pekerjaan adalah apa yang kau lakukan dan pekerjaan adalah identitas diri,” kenang Ephron. “Kau bisa punya anak dan menikah, tapi akan menjadi apa kau nantinya?”
Setelah menamatkan kuliah di Wellesley College Massachusetts, Ephron pindah ke Manhattan. “Aku melihat di Newsweek bahwa mereka tidak memiliki penulis wanita. Aku akhirnya mendapat pekerjaan di New York Post. Akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, Ephron menjadi salah satu penulis yang paling diperhitungkan dalam dunia jurnalistik di Amerika dan ia menulis kolom tentang wanita untuk Esquire.
"Saat itu adalah masa terjadinya pergerakan wanita, dan itu menyebabkan kekacauan besar," kenangnya. “Dan itu sangat menarik untuk ditulis.” |
|
| |
[Semua Resensi Buku Ini] |
|