Display Buku
Kelas 58 - The Class
 
Rp 85.200
Hemat Rp 17.040
Rp 68.160

 
Apa itu Resensi?

Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
Resensi dari karangsati
 
  14 Jan 2008 - 10:52:44

Isi Resensi :
The Class


Ini dia buku yang pernah saya cari sembilan tahun lalu. Akhirnya dicetak ulang juga. Membaca The Class kita dibawa Erich Segal pada suasana kampus Harvard tahun 1958. Suasana belajar yang penuh tekanan. Kompetisi akademis berbaur dengan egoisme dan arogansi intelektual mahasiswanya dalam mengaktualisasikan diri mereka. Kegilaan, ambisi, dan gejolak serta gairah muda para tokohnya yang mengalir liar. Bagaimana anggota 58 kehilangan kendali terhadap diri mereka tanpa mempunyai daya untuk melawan. Tertelan arus yang tercipta bagai badai twister. Ada berbagai macam kisah disini. Daniel Rossi, pemuda berperawakan ceking namun berbakat besar sebagai pianis masa depan yang mati-matian berusaha menyenangkan hati sang ayah. Jason Gilbert Junior, pemuda tampan nan atletis yang menjadi pusat sensasi gadis-gadis Radcliffe. Andrew Eliot yang terbebani oleh bayang-bayang leluhurnya. Ted Lambros yang harus berjuang keras mengatasi kesulitan ekonominya agar tetap bisa bertahan di kampus para genius ini. David Davidson yang harus diangkut ke rumah sakit jiwa karena depresi. George keller. Dick Newal. Dan teman-teman mereka harus menghadapi hari-hari keras di sini. Setiap alumni kelas 58 menyimpan kenangan-kenangan mereka sendiri. Kelas 58 adalah arena mereka bertarung. Mencari jati diri. Mengejar ambisi. Mewujudkan harapan. Melarutkan kesenangan. Mereka harus berjuang agar eksis. Agar tetap waras. Agar tidak menjadi junkies—pecandu obat. Agar tak mengikatkan kabel telepon ke leher, atau mengiris nadi pergelangan tangan, atau terjun ke sungai Charles. Setelah menang menghadapi semua itu—diri mereka sendiri—barulah mereka bisa mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan ketatnya persaingan di kelas. Seperti kata Erich : hampir setiap dari mereka adalah pembaca pidato perpisahan sekolah menengah mereka. Dapatkah mereka mengulanginya lagi di Harvard. Ada ratusan juara satu di sana. Namun hanya akan ada satu dari juara satu itu yang akan mengulang kembali prestasi sekolah menengah mereka. Novel ini kilas balik. Tentang kisah yang mereka lalui 25 tahun lalu. Tentang kenyataan yang mereka hadapi kini. Ini adalah barisan peristiwa. Dimana cerita ada dikenangan para tokohnya yang sedang bereuni. Yang berhasil. Yang biasa saja. Yang tenggelam. Novel ini penuh warna seperti Dokter. Sekitar tahun sembilan puluh enam sembilan puluh tujuh saya membaca novel Dokter karya Erich Segal. Dan saya langsung jatuh cina eh jatuh cinta. Langsung saja saya mengoleksi novel-novelnya yang lain. Seperti Love Story, Oliver’s Story (kelanjutan Love Story), Only Love. Padahal sebelumnya saya tidak menggubris sama sekali Love Story walaupun banyak dengar promosinya. Entah dari cover buku itu sendiri. Maupun dari orang yang telah membacanya. Karena saya pikir LS itu sama seperti novel-novelnya Barbara Cartland—saya tak suka novel Barbara Cartland, mohon maaf buat penggemar Barbara. Maka begitu pula anggapan saya terhadap The Class. Namun setelah iseng-iseng membeli Dokter—saat itu saya tertarik karena tebalnya (sekitar 950 halaman dengan tulisan kecil-kecil)—dan melahapnya. Saya jadi Erich Segal Story’s Mania. Saya kecanduan dongeng chauvinis Harvard ini. Setelah dapat novel-novel lainnya saya pun memburu The Class. Namun… The Class sold out! Di toko-toko buku nggak ada. Saya heran mengapa tidak dicetak ulang oleh Gramedia. Barangkali tidak ada perjanjian cetak ulang dengan pihak penerbit resmi novel Eric di barat sono. Setau saya urusan novel luar nggak segampang novel terbitan karya anak negeri. Khas Erich segal dalam gaya penceritaan adalah tokoh-tokohnya terkesan angkuh—berbeda dengan tokoh-tokoh rekaan Grisham yang humble nggak jarang pesimis. Agak menyebalkan sebetulnya. Namun narasinya bagus, dialognya sangat kuat dan mengena. Saya jarang mendapati Erich mengumbar kata-kata yang tak perlu dalam novelnya. Setiap dialog rasanya dipikirkan dengan masak. Itu mungkin barangkali sebabnya dia tak menerbitkan banyak novel. Novelnya sedikit. Namun kualitasnya oke. Mari kita nikmati dialog rekaan Erich Segal dalam The Class. Ini adalah dialog antara Daniel Rossi salah satu anggota kelas 58 dengan petugas sekretariat saat mendaftar sekaligus mencari kerja lowongan kerja sebagai sebagai pianis cabutan: “Jangan berharap, Nak” petugas sekretariat mengingatkan. “Kami punya sejuta pemain piano yang menganggur. Terus terang, satu-satunya lowongan bagi pianis ialah di tempat-tempat suci. Tapi kau tau sendiri. Tuhan hanya membayar upah minimum” Sambil berkata, petugas itu mengarahkan kuku panjangnya yang bercat merah ke kertas-kertas putih kecil yang tersemat di papan pengumuman. “Pilihlah tempatmu, Nak” Setelah meneliti secara cermat berbagai kemungkinan yang ada, Dany kembali dengan dua lembar kertas. Ini cukup bagus buatku” Katanya. “Pemain organ pada hari jumat malam dan satu pagi dibiara malden, dan minggu pagi di gereja Quincy. Apa lowongan itu masih tersedia?” “Itu sebabnya kertas-kertas itu masih tergantung di sini. Tapi seperti yang kau lihat, roti yang mereka tawarkan sama kecilnya dengan biskuit Rizt” “Yah” Danny menyahut, “Tapi aku benar-benar harus memanfaatkan setiap sen uang yang bisa diraih kedua tanganku. Apakah banyak permintaan untuk mengiringi acara dansa pada sabtu malam?” “Wah, kau cukup kelaparan rupanya. Harus menanggung keluarga besar atau bagaimana?” “Bukan. Aku mahasiswa tahun pertama di Harvard dan membutuhkan uang untuk bayar kuliah” “Kenapa orang-orang Cambridge yang kaya tak memberi beasiswa kepadamu?” “Ceritanya panjang” Jawab Dany agak canggung. “Tapi kuharap kau tak lupa padaku. Bagaimanapun aku tetap menghubungimu” “Aku tak akan heran, Nak” Seperti yang semua orang tau. Kekuatan novel Erich Segal adalah kekuatan dialognya. Erich dapat membuat dialog yang amat memikat hampir di setiap kesempatan dalam novelnya. Menjadi ciri khas Erich adalah ironi yang diciptakannya hingga dialog dibuat satir yang kadang hiperbola dalam kerangka praktis. Dialog ini pula yang mengesankan tokoh-tokoh di dalamnya terkesan angkuh. Halah Rang, nggak usah banyak cerita atau cingcong, pokoknya baca aja, dijamin terlena! Tulisan ini diposting pertama kali di intranet djp dan juga dimuat pada blog saya: http://karangsatie.blogspot.com
Rating
+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating


 
 
[Semua Resensi Buku Ini]