Display Buku
Hubbu
 
Rp 42.000
Hemat Rp 8.400
Rp 33.600

 
Apa itu Resensi?

Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
Resensi dari abd
 
  10 Apr 2008 - 11:55:18

Isi Resensi :
Hubbu


Abdullah Sattar alias Jarot mewakili generasi yang sedang transisi baik dari segi moral agama, kebudayaan, pola pikir dan cara pandang dan gaya hidup, jika orang awam pada umumnya melihat dan menilai transisi yang sedang berlangsung merupakan sebuah trend dan sebuah keharusan agar tidak dianggap udik maka tidak demikian dengan Abdullah Sattar alias Jarot, darah yang mengalir pada tubuhnya dapat menjelma menjadi golongan apa saja sesuai dengan yang dibutuhkan, suntikan darah Jarot dinggap mampu memberikan darah segar demi kelangsungan pesantren sebagai penerus trah dan tinggal pada lingkungan keluarga Jawa yang sangat menekankan pendidikan agama Islam dan dilarang untuk memahami kebudayaan Jawa yang penuh dengan klenik dan mistik dengan didikan yang keras dan doktrin-doktrin agama, sosok Jarot menjelma menjadi seorang pemikir dan haus akan jawaban atas doktrin-doktrin yang mengikatnya. Gejolak pemikiran dan hatinya membuat ia memutuskan untuk mencarinya jawaban di luar dari lingkungan keluarga, setelah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Surabaya, Jarot semakin terbelenggu dengan pola pikirnya dan gaya hidup transisi yang sedikit menyeretnya semakin ke tengah arus hidup postmodern. Dominasi cerita pewayangan yang terekam jelas di memori otaknya selalu berkecamuk dengan norma agama dan dengan arus hidupnya sendiri, perang batin inilah yang ia rasakan, terkadang apa yang sedang ia jalani merupakan skenario yang telah ia baca dari mimpi mimpinya belum lagi ilmu laduni yang ia peroleh dari darah trah yang mengalir pada tubuhnya, ilmu laduni adalah karunia Allah yang langsung diberikan kepada hambanya secara langsung untuk mengetahui keadaan yang sedang dijalani, yang akan datang ataupun masa lalu walaupun kadang jawaban tersebut berupa simbol-simbol yang harus ia pecahkan terlebih dahulu, gejolak batin yang terus-menerus itulah yang mendorongnya untuk mengambil keputusan di luar dari pakem norma agama walaupun keputusan yang ia ambil tentunya mempunyai konsekuensi yang akan ditanggungnya baik di hadapan keluarga besarnya, kepada tuhannya, maupun kepada dirinya sendiri. Terlalu naïf rasanya bila pengalaman hidup yang Jarot dapat diterapkan di lingkungan pesantren yang harus ia pimpin sementara lingkungannya mengharuskannya untuk memimpin pesantren, Jarot merasa menistakan keniscayaan yang diberikan kepadanya sungguh beban mental yang harus ia pikul, sementara saat ini ia menjadi manusia bebas, bebas mendekati zina dan minuman haram, bebas berpacaran dan bebas dari memahami budaya Jawa yang klenik, pola pikirnya membuat Jarot menjadi manusia yang liberal sehingga ia memutuskan untuk lari dari lingkungan dan norma yang membesarkannya, pelariannya merupakan bentuk pensucian diri, setelah ia merasa menjadi manusia yang paling hina walaupun akhirnya ia tahu kehinaan yang selama ini Jarot rasakan merupakan kehinaan orang lain dan ia harus mensucikan kehinaan tersebut menjadi kemuliaan. Darah biru tetap darah biru, setidaknya ini yang berlaku, serapat apapun masa lalu Jarot tersimpan bahkan terpenggal dari keturunannya tapi pasti terkuak dan trah atau silsilah tetap berlanjut walaupun keturunannya tidak memahami sepenuhnya tapi jaman berganti dan pola pikir pasti mengikuti perkembangan jaman.
Rating
+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating


 
 
[Semua Resensi Buku Ini]