Bilangan Fu

+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating+0 rating
3.91 avg rating - 2781 Goodreads ratings
  • Cover Bilangan Fu
Rp 72.000
Hemat Rp 14.400
Rp 57.600
Judul
Bilangan Fu
Penulis
No. ISBN
9789799101228
Tanggal terbit
Juni - 2008
Jumlah Halaman
500
Berat
500 gr
Jenis Cover
Soft Cover
Dimensi(L x P)
140x210mm
Kategori
Romance
Bonus
-
Text Bahasa
Indonesia ·
Lokasi Stok
Gudang Penerbit icon-help
Stok Tidak Tersedia

DESCRIPTION

Yuda, seorang pemanjat tebing dan petaruh yang membenci kota, sinis dan skeptis. Toh ia memiliki mimpi-mimpi intim dan ganjil yang membuat ia terobsesi pada sebuah bilangan bukan rasional bernama bilangan fu.

Parang Jati, seorang pemuda bermata bidadari berjari dua belas. Sejak pertemuan mereka, ia seolah memiliki misi untuk membuat Yuda berganti agama dari pemanjat kotor menjadi pemanjat bersih.

Persahabatan itu melibatkan mereka pada cinta segitiga dan petualangan yang menuntut pengorbanan. Di dalamnya, dengan latar pegunungan kapur di pantai Selatan Jawa, bilangan bukan rasional fu samar-samar menampakkan diri.

REVIEW Bilangan Fu

Oleh : gagang_aking, 11 Jul 2008-17:57:49

Rating
+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating
Dalam komentarnya terhadap De Sancta Trinitae karangan Boethius, Thomas Aquinas membuat sebuah pernyataan yang sangat terkenal yaitu bahwa pada akhirnya kita menyadari bahwa Tuhan tidak bisa kita pahami. In finem nostrae cognitionis Deum tamquam ignotum cognoscimus. Maka Tuhan atau kebenaran tinggalah sebagai misteri, yang senantiasa kita cari tanpa pernah kita temukan.

Sikap paling masuk akal yang muncul dari kesadaran itu adalah pengakuan bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tuhan. Kita tidak tahu apa-apa tentang rencanaNya pada dunia ini. Kita tidak tahu apa-apa tentang kehendakNya pada diri kita, kelompok kita, dan kelompok diluar kita. Hanya Tuhanlah kebenaran, sebaliknya kita sama sekali tidak tahu apakah kebenaran itu. Dengan demikian kita tidak akan keras kepala menganggap diri sebagai yang benar, dan menghakimi orang lain sebagai yang tidak benar.

Kesadaran dasar ini juga akan membantu kita memandang semua sarana untuk mencari Tuhan secara proporsional. Sesuci apapun sebuah ayat, tak lebih dari sebuah wahyu, dan bukan kebenaran itu sendiri. Tidak perlu kita berkelahi meributkan rumusan-rumusan ayat kitab suci yang isi atau tafsirannya berbeda antara kelompok yang satu dengan yang lain, karena jika demikian kita menganggap rumusan wahyu itu sebagai Tuhan sendiri.

Tokoh protagonis Parang Jati dalam novel terbaru Ayu Utami adalah sosok yang mewakili bentuk penghayatan spiritualitas yang menghargai (respek) pada orang lain dan lingkungannya. Bahwa kita seharusnya berinteraksi dengan segala sesuatu di luar diri kita (manusia dan lingkungan) dengan sikap welas asih dan tidak memaksa. Sikap ini dipertentangkan dengan sikap tokoh antagonis Kupukupu, yang karena selalui dihantui rasa tidak aman dan belum selesai dengan eksistensi dirinya, menafsirkan rumusan ayat-ayat dalam Kitab Suci secara matematis, dan menggunakannya untuk menghakimi semua orang yang dianggap menyimpang dari rumusan tersebut.

Seperti dalam dua novel terdahulu (Saman dan Larung), dalam novel ini kita masih bisa merasakan kelincahan Ayu dalam memainkan kata-kata sehingga terlahir ungkapan-ungkapan puitis yang pada titik-titik tertentu melahirkan letupan keindahan laksana kembang api di angkasa. Berbeda dari dua novel terdahulu, dalam novel ini Ayu lebih kontemplatif dan lebih mendalam, tanpa terjebak menjadi nyinyir. Tidak heran Ayu sendiri menamai novel ini sebagai manifestonya tentang spiritualitas kritis.

Memang ada sedikit yang terasa mengganggu menyangkut kutipan-kutipan berita dari surat kabar yang tidak bersesuaian dalam waktu dan tempat dengan kejadian sebenarnya, sekilas terkesan dicocok-cocokkan. Namun kita harus selalu ingat bahwa bagaimanapun kisah ini adalah fiksi (rekaan), bukan fakta sejarah.

Bagaimanapun sebagai sebuah karya, novel ini memenuhi syarat keindahan (menggetarkan jiwa), simbolisme (apa yang terjadi di Watugunung merupakan miniatur dari kejadian secara nasional dan internasional, menyangkut modernisasi yang eksploitatif terhadap alam dan perlawanan antara kaum fundamentalis dan moderat agama), dan sebuah pernyataan sikap pengarang terhadap itu semua. Atas pertimbangan itu semua, novel ini bisa digolongkan dalam karya sastra.

Kita tunggu apakah novel ini akan mendapat penghargaan sastra seperti novel pertama Saman.

Goodreads Review Bilangan Fu

ABOUT AUTHOR

Justina Ayu Utami atau dikenal Ayu Utami adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia. Beliau besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI).

Ayu dikenal sebagai novelis sejak Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag. Kini Ayu bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu.

(dirangkum dari Goodreads oleh Team Bukukita)

WHY CHOOSE US?

TERLENGKAP + DISCOUNTS
Nikmati koleksi Buku Romance terlengkap ditambah discount spesial.
FAST SHIPPING
Pesanan Anda segera Kami proses setelah pembayaran lunas. Dikirim melalui TIKI, JNE, POS, SICEPAT.
BERKUALITAS DAN TERPERCAYA
Semua barang terjamin kualitasnya dan terpercaya oleh ratusan ribu pembeli sejak 2006. Berikut Testimonial dari Pengguna Jasa Bukukita.com
LOWEST PRICE
Kami selalu memberikan harga terbaik, penawaran khusus seperti edisi tanda-tangan dan promo lainnya

Produk digital

Karya Ayu Utami lainnya:

Buku sejenis lainnya

WorkLess, EarnMore the trilogy Part 1
Buku Who The Hell Are You? Buku Personal Branding
Buku pengembangan Diri Januari 2020
Buku Populer & Terlaris 2020