|
Apa itu Resensi?
Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
|
|
|
| |
01 Mei 2012 - 12:24:09
Isi Resensi : 86 - Sebuah Novel
Buku ini mengenalkan kita akan banyak sisi lain di kehidupan Jakarta, melalui sebuah tokoh Arimbi. Dikemas dengan apik mengungkap seluk beluk kehidupan Jakarta yang terlihat tenang namun penuh intrik. Buku yang bagus karena tidak menceritakan Jakarta yang glamour, Jakarta yang mewah tapi Jakarta yang penuh perjuangan. Orang – orang yang harus kuat untuk bertahan hidup di Jakarta seperti Arimbi.
Arimbi hanya seorang gadis desa, ayah ibunya hanya seorang petani. Arimbi yang hanya anak dari pasangan petani sederhana yang tinggal di Ponorogo, karena orang tuanya tidak mau nasib Arimbi sama dengan mereka akhirnya Arimbi dikuliahkan di Solo. Kemudian Arimbi meneruskan perjuangan hidupnya di Jakarta.
Jakarta, kota penuh polusi dan hiruk pikuk warganya. Di kota yang di jadikan Ibu Kota ini lah Arimbi mengenal kehidupan yang sesungguhnya. Di kota ini lah Arimbi mulai mengenal banyak warna kehidupan. Kehidupan akan percintaan, kehidupan dengan berbagai karakter manusia, Kehidupan akan perjuangan, kehidupan dalam memenuhi kebutuhan, kehidupan yang tidak semanis dalam bayangannya sebelumnya. Di kota Jakarta inilah Arimbi mulai mengenal dan bermain dengan istilah 86.
Ungkapan 86 awalnya digunakan di kepolisian yang artinya sudah dibereskan, tahu sama tahu. Tapi kemudian digunakan sebagai tanda penyelesaian berbagai hal dengan menggunakan uang.
Arimbi yang awalnya hanya gadis lugu akhirnya mulai berkembang mengenal kesepakatan-kesepakatan berbahaya, arimbi akhirnya juga mengenal bentuk-bentuk kejahatan yang tersembunyi dengan rapih dan manis. Arimbi mulai dapat mencari cara menghasilkan uang selain dari gajinya. Dan kalimat 86 yang sebelumnya tidak dipahaminya semakin sering didengarnya. Arimbi tidak lagi menganggap 86 kata yang menakutkan. Arimbi mulai terbiasa berkompromi secara 86.
Tapi sayangnya apa yang dilakukan Arimbi salah dimata hukum. Arimbi pun di hadapkan akan dilemma kenikmatan uang dan kebahagiaan hidup. Bagaimana Arimbi harus melewati fenomena-fenomena kehidupannya dengan kembali tegar, dapatkah Arimbi mempercayai orang-orang di sekelilingnya tanpa harus ada kesepakatan 86. Atau bagaimana caranya agar Arimbi dapat hidup terpenuhi dan berkecukupan secara financial tanpa kesepakatan 86.
Dari Novel ini saya dapat memandang Jakarta tidak lagi dari mall mall nya yang megah atau mobil – mobil dan kendaraan yang membuat polusi dan kemacetan. Novel ini cukup berani bercerita permasalahan dibalik jeruji. Ironis memang, tapi sangat menyadarkan kita seperti apa Indonesia ini. |
|
| |
[Semua Resensi Buku Ini] |
|