|
Apa itu Resensi?
Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
|
|
|
| |
10 Feb 2008 - 23:28:41
Isi Resensi : What a Wonderful Moment!
“Jangan menikah dulu sebelum membaca novel ini”
Begitulah pesan teman yang merekomendasikan buku ini ke tangan saya. Saya sempat keheranan dengan pernyataan tadi. Yang saya tahu dari sinopsis film Ayat-ayat Cinta (saya memang ketinggalan, baru mengetahui novel ini setelah filmnya dibuat) menceritakan kisah seorang mahasiswa Indonesia di Cairo, Mesir.
Awal membaca buku ini saya terkesan pada tulisan Kang Abik yang lembut, yah sempat sedikit bosan karena saya terbiasa membaca cerita yang beralur cepat dan dinamis. Namun setelah itu saya mulai menikmati keindahan paparan kehidupan Mesir serta gambaran kota Cairo dan musim panasnya. Ditambah lagi beberapa pembelaan Islam dari sudut pandang yang adil dan proporsional membuat novel ini semakin membuai. Konflik yang mengawali pertemuan Fahri dan Aisha yang membuat saya meneruskan membaca lembar demi lembar.
Poin positif yang saya temukan dalam buku ini adalah penggambaran Kang Abik bahwa Islam itu adalah sebuah karunia. Banyak penuturan tentang Islam yang dilandasi dalil-dalil kuat bahwa Islam mengajarkan kelembutan, perdamaian juga keindahan. Baik bagi umat Islam itu sendiri maupun mereka yang non-Islam. Islam jauh dari penggambaran negative yang selama ini marak terjadi. Insya Allah mereka yang non-muslim juga akan dapat menikmati novel ini meski latar belakang Islam dalam cerita ini begitu kental. Novel ini mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan negative tentang Islam dengan bahasan lugas dan jelas.
Penulisan Kang Abik tentang Mesir dan sosial budaya masyarakatnya juga terasa pas. Kita diajak untuk melihat masyarakat Mesir dengan segala kelemahan dan kelebihannya tanpa ada kesan menggurui dan menghakimi.
What a wonderful moment! Saya menemukannya ketika sampai pada bagian ta’aruf Fahri.
---
“Anakku, tunggulah nanti sebentar lagi ketika kau sudah duduk di ruang tamu dan gadis itu masuk bersama walinya kau akan merasakan panas dingin yang luar biasa. Panas dingin yang belum pernah kaurasakan. Apalagi kala kau dan dia nanti sesekali mencuri pandang. Suasana hatimu tidak akan bisa kaulupakan seumur hidupmu. Inilah keindahan Islam. Dalam Islam hubungan lelaki perempuan disucikan sesuci-sucinya namun tanpa mengurangi keindahan romantisnya.” Kata-kata Syaikh Utsman menambah tubuhku semakin dingin.
---
Subhanallah, Allah menciptakan cinta yang indah di antara laki-laki dan perempuan. Cinta yang dibingkai dalam sebuah ikatan pernikahan.
Pernikahan Fahri yang tidak digambarkan secara dramatis seperti novel cinta pada umumnya terasa lebih romantis. Kisah cinta yang sangat menyentuh. Pun ketika cinta itu mendapatkan ujian. Kekuatannya tak terpatahkan, karena landasannya begitu kuat –Allah, The Great–
Hal yang tidak saya duga adalah paparan awal tulisan tentang Maria, Aisha, Nurul dan Nourma. Saya kira hanya satu gadis yang akan menjadi kunci cerita, tapi ternyata kesemuanya memegang peran sebagai kunci. Hal yang agak menganggu adalah pada akhir cerita Maria, kok jadinya malah seperti ending opera sabun ya. Padahal keseluruhan cerita jauh berbeda dari pakem tersebut.
Overall, novel ini sangat mengagumkan. Kang Abik telah berhasil memberi paparan yang bagus tentang cinta dalam Islam. Islam merupakan agama yang penuh keindahan, cinta dan perdamaian.
Bravo Kang Abik! |
|
| |
[Semua Resensi Buku Ini] |
|