|
Apa itu Resensi?
Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
|
|
|
| |
22 Apr 2008 - 15:47:32
Isi Resensi : My Sister Keeper
Anna Fitzgerald, gadis berusia 13 tahun, mengajukan gugatan hokum terhadap orang tuanya – Sara dan Brian – menuntut kebebasan medis atas dirinya. Sejak lahir, Anna sudah menyumbangkan sel darah tali pusatnya untuk kakaknya, Kate, yang menderita leukemia. Tidak ada donor yang cocok untuk Kate, entah itu orang tuanya sendiri atau kakak laki-lakinya, Jesse.
Oleh karena itu, kehamilan Sara atas Anna seolah ‘dirancang’ untuk melahirkan anak yang akan cocok menjadi donor yang bisa memperpanjang hidup Kate.
Suntikan, transfusi darah dan operasi menjadi hal yang biasa dijalani Anna demi Kate – paling tidak itu yang diyakini oleh Sara dan Brian. Bukan Anna tidak menyayangi Kate, tapi ketika pada puncaknya, Sara meminta Anna untuk mendonorkan satu ginjalnya untuk Kate, hati Anna mulai berontak. “Bagaimana jika aku mengalami gagal ginjal saat umurku misalnya, tujuh puluh tahun? Di mana aku mendapat ginjal cadanganku?” (Hal. 467).
Karena itulah, Anna memberanikan diri untuk ‘menyewa’ Campbell Alexander untuk menjadi pengacaranya. Kasus ini menjadi rumit, karena Anna harus berhadapan dengan orang tuanya sendiri. Anna sendiri masih terbilang labil, awalnya sempat maju-mundur, apakah mau melanjutkan kasus ini atau tidak. Karena baginya, menang atau kalah, akan ada hati yang terluka atau bahkan ada yang akan dikorbankan.
Dari pihak orang tua Anna, diwakili sendiri oleh Sara yang pernah sekolah hukum. Membuat kasus ini melibatkan terlalu banyak ‘perasaan’ yang mungkin bisa membuat Anna semakin goyah.
Semua tokoh dalam cerita ini mendapat ‘porsi’ untuk mencurahkan pikiran mereka – kecuali Kate - termasuk Jesse, kakak laki-laki Anna yang gemar ‘membakar’ dan memiliki jiwa pemberontak. Pelan-pelan akan kelihatan kedewasaan setiap tokoh dalam melewati hari-hari mereka, termasuk Anna dan Jesse. Cukup detail penggambaran ‘jeritan hati’ setiap orang, gimana Brian yang ingin mendukung Anna, tapi juga kepikiran sama ‘nasib’ Kate, atau mungkin pembaca akan berpikir kalo Sara adalah ibu yang ‘egois’, ‘mengorbankan’ Anna demi Kate. Tapi, tokoh favorit gue adalah Jesse – nyentrik, tapi care sama adik-adiknya.
Jalannya cukup membuat penasaran sejak awal, apakah Kate akan meninggal atau Anna yang akan nyerah. Tapi, saya berhasil bertahan dan sabar untuk gak buru-buru ngeliat ending cerita.
Sayang, penyelesaian akhir cerita ini rada mirip sinetron, membuat saya sempat kecewa, meskipun secara keseluruhan cerita dalam buku ini bagus. Tapi, penting gak ya, membahas sejarah masa lalu Campbell Alexander dan Julia Romano – wali ad litem untuk Anna? |
|
| |
[Semua Resensi Buku Ini] |
|