Display Buku
4 Opas : Misteri Lukisan Tengkorak #1-2 (Soft Cover)
 
Rp 108.000
Hemat Rp 21.600
Rp 86.400

 
Apa itu Resensi?

Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
Resensi dari ima
 
  28 Des 2007 - 10:26:35

Isi Resensi :
Si Darah Dingin Yang Berkepala Dingin


Bila anda berharap Misteri Lukisan Tengkorak melanjutkan akhir kisah Pertemuan di Kotaraja yang masih menggantung, maka bersiaplah untuk kecewa. Apalagi bila mengharapkan kemunculan keempat detektif kotaraja yang memiliki license to kill, karena yang tampil hanyalah Leng-hiat seorang. Kisah dimulai dari buruknya kondisi penjara. Para narapidana diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi bahkan mereka dibunuh satu persatu dengan keji. Padahal sebagian dari mereka tidak melakukan kesalahan yang dituduhkan. Tong Keng, misalnya. Pemuda yang tidak takut mati demi membela kawan ini adalah mantan anggota piaukiok ternama. Dia ditangkap setelah piaukiok tempatnya bekerja dituduh merampok uang hasil kawalan sendiri. Sialnya, uang itu adalah uang setoran pajak dari rakyat. Uang itu memang dirampok, tapi bukan oleh anggota piaukiok melainkan oleh gerombolan begundal sadis. Beberapa anggota bahkan sampai kehilangan nyawa demi menyelamatkan uang pajak yang akhirnya digondol gerombolan perampok dengan sukses. Merasa gilirannya untuk mati sudah tiba, Tong Keng tidak menjadi cengeng. Dia bersiap diri, menunjukkan dirinya masih memiliki harga diri dan tidak takut mati. Tapi sebelum dia sempat dibunuh, datang serombongan pemberontak menjebol penjara untuk membebaskan pemimpin mereka. Nyawanya pun terselamatkan. Bisa ditebak, kelanjutan cerita adalah bagaimana mereka melepaskan diri dari kejaran para opas. Membaca cersil ini harus sabar, jangan buru-buru menggerutu mempertanyakan di mana para opas yang seharusnya menjadi tokoh utama cerita. Leng-hiat baru benar-benar tampil di pertengahan jilid pertama. Entah mengapa Wen Rui-an begitu menonjolkan tokoh Tong Keng dan memberinya porsi berlebih hingga menyaingi Leng-hiat. Belum lagi munculnya sang raja opas Li Hian-ih yang kesaktiannya menggerus karisma jagoan kita. Namun meski harus berbagi jatah dengan dua bintang tamu, kehadiran si Darah Dingin tetap memberi nyawa pada kisah ini. Opas termuda yang dalam kisah sebelumnya digambarkan sebagai jagoan muda yang berangasan dan tahan bacok, kini tampak lebih matang dan dewasa. Dia tidak terburu-buru membabat nyawa buronan, tapi mencoba mengenal mereka lebih dulu, mencari tahu apakah tuduhan yang ditimpakan pada mereka itu benar atau salah. Misteri Lukisan Tengkorak menunjukkan kalau Wen Rui-an makin terpengaruh seniornya, Khu Lung. Sang pengarang mulai berani nakal, menyajikan beberapa adegan tujuh belas tahun ke atas. Di samping itu, adegan-adegan sadis pun digambarkan dengan gamblang. Maka cersil ini tidak pantas dikonsumsi mata para pembaca belia. Sangat disayangkan empat sekawan opas murid Cukat sianseng tidak dimunculkan sekaligus padahal dalam bab terakhir Pertemuan Kotaraja, kekompakan dan kerjasama keempatnya begitu memikat. Mungkin Wen Rui-an ingin lebih menonjolkan karakter masing-masing jagoannya dengan memberi mereka kesempatan untuk tampil solo bergiliran seperti yang pernah dilakukannya dalam serial pertama 4 Opas. Semoga saja suatu saat nanti kita bisa kembali melihat sepak terjang Put-cing (si Tanpa Perasaan), Tiat-jiu (si Tangan Besi), Tui-bing (si Pengejar Nyawa) dan Leng-hiat (si Darah Dingin) dalam menghadapi satu kasus besar.
Rating
+1 rating+1 rating+1 rating+0 rating+0 rating


 
 
[Semua Resensi Buku Ini]