|
Apa itu Resensi?
Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
|
|
|
| |
08 Mei 2008 - 15:18:05
Isi Resensi : Bangkitnya Makhluk Tanah Liat
Setelah berhasil jadi pahlawan di buku pertama dengan menggagalkan usaha pemberontakan Lovelace, peruntungan Nathaniel mulai bagus. Karirnya di pemerintahan terus meroket. Tapi hal ini tidak diimbangi dengan sikap rendah hati dan tidak sombong. Bahkan, Nathaniel malah jadi luar biasa menyebalkan. Hueeekkk... tingkah dan gayanya itu loooh, sok cool tapinya menjijikkan. Mungkin karena umurnya baru empat belas tahun ya, makanya dia masih labil. Semangatnya menggebu-gebu. Ia menjadi ambisius dan tidak peduli kepada orang lain.
Diceritakan lewat tiga sudut pandang tokoh utamanya, Golem’s Eye membawa kita menyusuri jalanan di kota London, jejak-jejak budaya lewat bangunan-bangunannya, dan kerusakan yang ditimbulkan oleh munculnya Golem. London dikacaukan oleh penyerangan dan perusakan gedung-gedung penting. Puncaknya adalah hancurnya sebagian British Museum beserta artefak dan benda-benda sejarah lainnya yang tersimpan di sana.
Pemerintah menganggap ini adalah ulah Resistence; kelompok yang terdiri dari para commoners, oposisi yang menginginkan pemerintahan Inggris dipegang oleh orang biasa yang tidak memiliki sihir. Kesimpulan ini mereka dapatkan setelah ditemukan bukti bahwa pengrusakan ini tidak meninggalkan jejak-jejak sihir.
Tapi, kerusakan sebesar ini tak mungkin ditimbulkan oleh sebuah kelompok kecil anarkis mirip preman yang hobi mencuri bernama Resistance. John Mandrake, nama resmi Nathaniel, akhirnya memanggil Bartimaeus (jin level ke empat) untuk menyelidiki.
Posisi Nathaniel di pemerintahan tergoncang karena kegagalannya menemukan dan mengatasi para pengacau ini. Bahkan masternya pun sudah malas membelanya. Apalagi dengan laporan Bartimaeus bahwa kekacauan ini disebabkan oleh Golem.
Golem adalah semacam monster boneka raksasa dari tanah. Sumber kekuatannya adalah mantera yang dimasukkan ke dalam mulutnya. Mantra ini ditulis oleh darah penyihir dan ditandatangani oleh pengendalinya. Perilaku monster ini seperti robot yang dikendalikan dari jauh. Di keningnya terdapat mata intelejensi yang berfungsi seperti kamera pengintai. Ia diselaputi oleh awan hitam mengerikan sehingga wujud aslinya hampir tak terlihat. Golem kebal terhadap segala jenis sihir. Cara untuk menaklukkannya adalah dengan mengambil mantra itu dari mulutnya. Hanya orang yang tak memiliki kekuatan sihir yang bisa melakukannya.
Seluruh pejabat pemerintahan tak ada yang mempercayai bahwa semua ini ulah Golem, karena makhluk itu telah musnah waktu penyerangan Praha oleh William Gladstone, pahlawan Inggris sepanjang masa. Tetapi, Mandrake berhasil meyakinkan mereka, hingga ia diutus ke Praha untuk menyelidikinya.
Pada saat itulah, kelompok Resistence membongkar makam keramat William Gladstone. Tanpa mereka tahu, mereka telah membangunkan jin level sembilan yang telah dimantrai untuk menjaga barang-barang Gladstone dan membunuh siapapun yang masuk. Semua anggota Resistence mati sebelum keluar makam tersebut, kecuali Kitty Jones dan seorang anak lelaki pengecut yang lari tanpa melawan; Nick. Kitty lolos membawa tongkat Gladstone yang memiliki kekuatan sihir tinggi.
***
Dari tiga narator ini, kita ditarik oleh tiga kepentingan. Nathaniel dengan obsesinya dan rencana menghancurkan kaum Resistance. Kitty dengan dendam terhadap para penyihir semena-mena yang telah membuat sahabatnya cacat permanen, dan ayah ibunya tak berkutik dihimpit kemiskinan karena mereka bukan dari kaum penyihir. Lalu Bartimaeus yang ingin melarikan diri dari jeratan mantra Nathaniel – berusaha mengerjakan tugas sebaik-baiknya agar segera terbebas.
Ketiga tokoh ini saling benci, saling ingin membunuh meski mereka berpotensi besar untuk saling mengasihi. Kebencian itu semata-mata hanya karena tempat mereka berpijak dan menggantungkan diri. Jika mereka saling mengobrol, sebenarnya mereka memiliki visi yang sama. Memberantas penjahat. Yah, kecuali Bartimaeus yang egomaniak tentunya. Tapi jin pun bisa menyayangi sesuatu. Bartimaeus yang sarkastik narsis bisa juga menjadi melankolis.
Menarik, memperhatikan seorang remaja yang harus terlibat dalam urusan-urusan belibet pemerintahan. Bagaimana ia mengambil keputusan dewasa, meski pada dasarnya ia masih anak-anak. Empat bintang. Trilogi terkeren yang saya baca dalam tahun 2007. |
|
| |
[Semua Resensi Buku Ini] |
|