Display Buku
4 Opas : Pertemuan di Kotaraja
 
Rp 183.600
Hemat Rp 36.720
Rp 146.880

 
Apa itu Resensi?

Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
Resensi dari ima
 
  09 Jul 2007 - 16:35:00

Isi Resensi :
4 Opas: Pertemuan di Kotaraja Jilid 1


Empat Opas adalah empat detektif ternama yang terdiri dari Put-cing (Si Tanpa Perasaan), Tiat-jiu (Si Tangan Besi), Tui-bing (Si Pengejar Nyawa) dan Leng-hiat (Si Darah dingin). Keahlian dan sifat mereka berbeda-beda. Namun keempatnya adalah murid Cukat-sianseng, tokoh kosen yang sangat dihormati di dunia persilatan dan sudah berkali-kali menyelamatkan nyawa Baginda Raja. Empat Opas : Pertemuan di Kotaraja dibagi menjadi dua jilid. Total bab dari dua jilid ada lima. Empat bab pertama menceritakan sepak terjang masing-masing opas dimulai dari Si Darah Dingin hingga Si Tanpa Perasaan. Sedangkan bab kelima mengisahkan sebuah kasus besar yang harus melibatkan keempat opas sekaligus. Jilid Pertama ini terdiri dari dua setengah bab. Setengah bab ketiga dilanjutkan dalam jilid kedua. Bab pertama mengenalkan Si Darah Dingin, opas termuda yang jago pedang. Ilmu pedang andalan opas nomor empat ini tak bernama. Ia adalah opas paling nekat dan paling berani beradu jiwa dengan musuh. Kasus yang harus diselesaikan Si Darah Dingin adalah mengungkap dalang pembunuhan Kim Seng-hui, salah seorang dari Lima Naga dari Bulim (lima tokoh kosen ternama yang disegani di dunia persilatan). Kim Seng-hui dibunuh di tengah pesta ulang-tahunnya yang dihadiri banyak tokoh penting dunia persilatan. Sang pembunuh meninggalkan pesan akan menghabisi nyawa empat naga lainnya karena ingin membalas dendam atas nyawa Iblis pedang darah terbang yang dulu dibunuh kelima naga. Keempat naga lainnya langsung meminta tolong Si Darah Dingin dan Liu Ce-in (yang dijuluki Dewa Opas) yang kebetulan hadir dalam pesta itu untuk mencari sang pembunuh keji. Seiring berjalannya waktu, para saksi pembunuhan dan naga mulai mati terbunuh satu persatu. Si Pengejar Nyawa yang ilmu tendangan kakinya sangat luar biasa menjadi tokoh utama dalam bab kedua. Opas tertua yang menduduki urutan ketiga ini paling urakan, jago melacak dan mampu merubah semburan arak menjadi senjata rahasia. Kasus yang harus diselidikinya adalah Perkampungan Alam Baka, bekas kediaman orang kaya-raya yang berubah menjadi rumah hantu. Perkampungan angker itu sudah menelan banyak korban. Demi kitab pusaka silat Pekikan Naga yang konon berada di dalam perkampungan itu, banyak pesilat baik dari kalangan putih maupun hitam berlomba masuk untuk mencarinya. Namun hanya ada satu orang yang berhasil keluar hidup-hidup, itu pun dalam kondisi gila. Maka Si Pengejar Nyawa ditugaskan untuk menyelidiki misteri di balik hilangnya tokoh-tokoh silat itu. Apa benar yang menghuni perkampungan itu hantu ganas atau monster pemakan manusia? Tapi ia tidak sendirian pergi ke sana melainkan bersama serombongan pesilat dari berbagai aliran dengan motivasi yang berbeda-beda. Gawatnya, sebelum tiba di Perkampungan Alam Baka, korban sudah berjatuhan. Petualangan Si Tangan Besi diceritakan dalam bab ketiga. Opas nomor dua yang juga nomor dua tertua ini memiliki tenaga dalam yang sempurna. Kedua tangannya sekeras besi dan kebal terhadap senjata tajam. Ilmu pukulannya pun dikenal maut. Ia diminta Cukat-sianseng untuk membantu melacak dan menangkap kembali tiga narapidana berbahaya yang kabur dari penjara. Salah seorang dari tiga narapidana itu adalah Coh Siang-giok, jago silat dengan ilmu sempurna yang pernah nyaris berhasil membunuh Baginda Raja. Dulu Cukat-sianseng sendiri yang menangkap Coh Siang-giok. Namun Cukat-sianseng tidak bisa ikut pergi karena harus menjaga keselamatan Baginda Raja. Karena itu Si Tangan Besi bersama rombongan opas harus segera menangkap Coh Siang-giok dan kawan-kawan sebelum mereka bersekutu dengan gerombolan pemberontak dan menyerang istana. Sama seperti serial Pendekar Empat Alis karya Khu Lung, Empat Opas karangan Wen Rui-an ini terinspirasi James Bond. Bedanya kecerdikan tipu-menipu dalam Empat Opas masih di bawah Pendekar Empat Alis. Bedanya lagi buku ini tidak genit (tokoh wanita hanya menjadi pemanis yang numpang lewat) dan juga tidak nakal (tidak ada penggambaran adegan-adegan dewasa). Yang diutamakan dalam cerita silat ini adalah perkelahian yang digambarkan dengan detail. Buku ini sangat cocok bagi pembaca yang suka menonton film silat full action karena isinya berantem melulu. Tapi untuk para pembaca yang mementingkan alur cerita, mungkin buku ini akan terasa membosankan.
Rating
+1 rating+1 rating+1 rating+0 rating+0 rating


 
 
[Semua Resensi Buku Ini]