Display Buku
Pendekar Riang (Soft Cover)
 
Rp 150.000
Hemat Rp 30.000
Rp 120.000

 
Apa itu Resensi?

Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
Resensi dari ima
 
  19 Jul 2007 - 10:21:16

Isi Resensi :
Si Riang Yang Kocak dan Romantis


Pendekar Riang adalah Kwik Taylok, seorang pemuda gagah yang ilmu silatnya tidak hebat-hebat amat, tapi bercita-cita menjadi pendekar besar. Karena baru berkelana dalam dunia persilatan, pengetahuannya akan seluk-beluk dunia persilatan sangat cetek. Ia agak lugu dan kadang sedikit tolol, tapi cepat mempelajari segala sesuatu sehingga sering merasa sok pintar. Hobinya mengoceh, boleh dibilang ia tidak kalah bawel dari nenek-nenek. Meski tampak mengesalkan, tapi hatinya baik, ramah, mudah tersentuh dan jatuh iba pada sesama manusia. Cerita dimulai dari saat Kwik Taylok terjun pertama kalinya ke dunia persilatan setelah kedua orang-tuanya meninggal. Ia ingin mengamalkan ilmu-ilmu silat yang dimilikinya untuk membantu banyak orang. Belum apa-apa ia sudah bangga bukan kepalang karena berhasil menyelamatkan nyawa seorang congpiautau sebuah piaukiok kecil. Hal ini membuatnya diterima menjadi wakil dari congpiautau tersebut. Namun setelah mengacaukan kawalan pertamanya, pahlawan kita ini dipecat. Setelah berganti-ganti profesi yang hasilnya malah membuatnya bangkrut habis-habisan dan kelaparan setengah mati, ia terpaksa merubah cita-citanya dari pendekar mulia menjadi perampok budiman. Maksudnya perampok ala Robin Hood yang merampok harta orang kaya untuk dibagikan pada orang miskin. Sialnya, ia salah sasaran. Yang dimasukinya memang sebuah rumah megah, tapi kosong melompong. Hok kui sanceng yang berlokasi di pinggiran kuburan seperti rumah hantu. Tak ada isinya kecuali sebuah ranjang besar dan sang pemilik rumah bernama Ong Tiong yang kerjanya hanya tidur-tiduran di atasnya. Walaupun begitu Kwik Taylok merasa senang berteman dengan Ong Tiong dan sejak saat itu ia tinggal di sana. Beberapa hari kemudian datang seorang pemuda bernama Yan Jit. Ternyata ia datang karena ingin bersembunyi dari kejaran sekelompok preman cebol yang dijuluki ‘Semut’. Tak dinyana empat semut menyusulnya ke sana. Terjadi perkelahian seru yang lucu antara Ong Tiong, Kwik Taylok dan Yan Jit di satu pihak melawan empat semut. Setelah kawanan semut berhasil diusir pergi, Yan Jit menjadi orang ketiga dalam Hok kui sanceng. Meski berteman, sikap Yan Jit tetap misterius. Ia sering menghilang beberapa hari dan pulang dengan membawa oleh-oleh aneh, dari seekor burung gereja sampai arak beras ketan. Suatu hari ia pulang sambil membawa seorang pemuda sekarat. Pemuda yang tidak jadi mati setelah menenggak habis satu-satunya persediaan arak mahal yang disimpan Ong Tiong selama bertahun-tahun itu bernama Lim Taypeng. Dan Taypeng juga akhirnya betah tinggal di dalam Hok kui sanceng bersama ketiga teman barunya yang dekil. Ong Tiong yang super pemalas, Kwik Taylok yang gesit dan ceria, Yan Jit yang cerdik dan Lim Taypeng yang kalem hidup bersama berbagi suka dan duka. Walau hidup miskin hingga kelaparan, tapi tetap bahagia karena memiliki sahabat. Dan juga karena Kwik Taylok selalu menghangatkan suasana. Meski demikian pantang bagi mereka untuk menanyakan persoalan pribadi dan masa lalu masing-masing. Namun seiring berjalannya waktu, rahasia masa lalu keempatnya terungkap satu persatu hingga mempengaruhi jalinan persahabatan dan merubah hidup mereka selanjutnya. Khu Lung memang selalu mengambarkan persahabatan dengan indah, lebih indah dari kisah cinta. Tapi cersil ini cukup romantis dalam menggambarkan jatuh-bangun pencarian cinta dari empat tokoh utama. Sesuai judulnya, cersil yang menggambarkan indahnya persahabatan dan kesetiakawanan yang tulus ini sangat riang dan membuat pembaca gembira. Dibuka dengan kisah kocak dan ditutup dengan kisah bahagia. Bagi penggemar Khu Lung yang menyukai tokoh utama yang cerdik bin sakti dengan alur cerita rapat penuh tipu-daya dan pertarungan sengit, mungkin akan merasa sedikit kecewa disuguhi cerita ringan yang dibumbui kekonyolan di mana-mana. Tapi Pendekar Riang sama sekali tidak bisa dikatakan jelek. Cerita mengalir dengan lancar. Meski obrolan ngalor-ngidul kadang terlalu panjang, tapi kata-katanya cerdas, menggigit dan lucu. Adu siasat dan pengkhianatan juga tetap ada, begitu pula dengan perkelahian biarpun porsinya sedikit. Yang mengasyikan walau sudah dibaca berkali-kali, buku ini tidak akan membosankan. Pertama, karena bahasa yang digunakan Tjan ID membuat cersil ini sangat enak dibaca. Yang kedua, tampilan buku ini sangat rapi dan enak dilihat karena Wastu Lanas Grafika mencetaknya dalam kemasan deluxe. Ada dua pilihan, hardcover dan softcover. Ada bonus pembatas buku pula. Gambar sampulnya pun bagus, menggambarkan relasi keempat sekawan ini dengan tepat. Coba semua cersil dicetak sebaik ini. Biarpun harganya sedikit mahal, tapi buku ini layak untuk dikoleksi.
Rating
+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating+0 rating


 
 
[Semua Resensi Buku Ini]