|
Apa itu Resensi?
Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
|
|
|
| |
07 Feb 2008 - 10:55:41
Isi Resensi : Mimi lan Mintuna : Kekuatan Cinta, Ketegangan dan Keharuan
Semula saya bertanya tanya, siapa dan apa Mimi lan Mintuna ini? Tanya saya ini dijawab dengan lugas oleh teman saya, bahwa Mimi lan Mintuna ini adalah dua sejoli, sehidup semati, bahagia tak terpisahkan. Ini yang membuat keterpikatan saya begitu hebat terhadap buku yang bersampul hitam dan bergambar topeng ini. Terlebih ketika saya membaca nama penulisnya ; Remy Sylado. Lantas lamat-lamat teringat karyanya yang terdahulu ; Parijs van Java yang memasukkan dua ajaran agama secara tersirat dan tersurat. Remy, diakui sangat andal menggandeng detail demi detail cerita. Menyajikannya dengan sempurna. Membuat pembaca ingin bergegas menyelesaikan.
Adalah Indayati yang merupakan tokoh sentral dalam novel ini. Kisah berawal pada kehidupan keluarga Indayati di Gunungpati, Ungaran. Sang suami, Petrus, tak lagi memiliki pekerjaan. Ia diPHK dari perusahaan milik Korea di sekitar Ungaran. Semenjak itu Petrus yang kemudian dipanggi Petruk ini mulai suka mabuk-mabukan dan ringan tangan terhadap istrinya. Karena tidak tahan terhadap perlakuan Petruk yang kasar, maka Indayati memutuskan meninggalkan rumah dan suaminya dengan membawa buah hati mereka, Eka.
Dengan hati galau, Indayati mengayunkan langkah menuju rumah adik ibunya di Semarang yang bernama Bambang Sunaryo. Lik Naryo, demikian Indayati memanggilnya. Beruntung Indayati masih dapat menemui keluarga Lik Naryo ini, karena Lik Naryo akan memboyong keluarganya pindah ke Manado. Bambang Sunaryo, seorang bekerja pada perusahaan tambang milik Amerika di Minahasa.
Melihat kondisi Indayati yang memprihatinkan, maka diajaklah serta Indayati ikut serta ke Manado untuk tinggal bersama mereka. Di Manado, Indayati mulai menata kembali hidupnya. Namun lama kelamaan kebosanan mulai menghinggapi hati Indayati. Ia ingin bekerja, dan bisa menghasilkan uang sendiri, tidak menjadi beban keluarga Lik Naryo. Tapi apa daya, surat-surat berharga yang menunjukkan bahwa dia pernah menjadi pegawai apotek di perusahaan farmasi di Semarang tidak terbawa.
Suatu ketika, Indayati melewati lapangan yang saat itu berjejal pengunjung yang ingin di-casting menjadi artis. Dari sinilah permasalahan bermula. Wajah Indayati yang Waca Waka – Wanita Cantik Wajah Kampung – (gelar yang belakangan diberikan kepada Indayati sebagai primadona seks) ini menarik perhatian agen penjaringan calon artis itu.
Meskipun Indayati tidak melewati casting, namun Kiky ; salah seorang dari agen maksiat tersebut melancarkan tipu daya sedemikian rupa, dalam rangka membujuk agar Indayati ikut bersama mereka, komplotan mafia yang memperjualbelikan perempuan. Indayati dan Kalyana, sepupunya masuk perangkap dan dibawa ke Bangkok. Di sana mereka dijadikan budak pelayan nafsu para lelaki hidung belang.
Sindikat perdagangan perempuan internasional ini beranggotakan Ng Seng Jung, Sean PV, Kiky dan Bunda yang seorang waria ini sangat keji.
Suatu hal yang tak terbayangkan dan sangat disayangkan, Kalyana mati ditembak oleh ‘orangnya’ Sean PV karena ketika dijual di Tokyo sudah tidak lagi perawan, sementara Indayati terus diperbudak, melayani nafsu mereka, lelaki hidung belang itu. Sebetulnya saya masih mengharapkan tokoh Kalyana ini ada sampai akhir cerita.
Novel ini sungguh membangkitkan rasa penasaran, membuat pembaca terpancing untuk mengikuti alur cerita hingga purna. Remy dengan ringan memasukkan beberapa kata serapan, kata-kata asing yang di-Indonesiakan seperti gaid untuk guide, dll. Walaupun terbaca sangat aneh dan semula tak paham, namun mungkin ini adalah ciri Remy.
Kilmaks dan rasa terpuaskan bercampur kagum, itu yang saya rasakan ketika saya menutup lembaran terakhir novel ini. Sempurna! Betapa Remy menulis bukan hanya sekedar imajinasi kosong. Tanggal dan tahun, dan kutipan surat kabar tahun 1997-an menunjukkan bahwa novel ini adalah novel fakta yang mampu membuka cakrawala pembaca tentang trafiking perempuan Indonesia. Tidak hanya itu saja, penggambaran secara detail sebuah tempat membuat pembaca berada di sana.
Kisah dalam novel ini Happy Ending, sesuai harapan saya. Dan ternyata pertanyaan saya di awal, siapa dan apa Mimi lan Mintuna itu kini terjawab. Baca saja… anda akan terbawa suasana, kadang meletup-letup, bisa melankolik, dan bisa juga membuat kita merasa seperti detektif dalam serial Lima Sekawan. Ughhh TOP banget dah. (Nai) |
|
| |
[Semua Resensi Buku Ini] |
|