|
Apa itu Resensi?
Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
|
|
|
| |
17 Jul 2007 - 00:42:06
Isi Resensi : Pedang Tetesan Air Mata
Inti cerita dari Pedang Tetesan Air Mata adalah betapa mulianya sebuah kesetiaan dan betapa sulitnya menjaga kesetiaan apalagi kalau sudah dikhianati. Kesetiaan di sini bukan hanya pada pasangan hidup, kekasih, atasan, sahabat atau teman seperjuangan, tapi juga pada prinsip-prinsip hidup. Sayangnya manusia yang lemah mudah tergoda sehingga timbul banyak pengkhianatan yang akibatnya menghancurkan hidup sendiri dan banyak orang dengan tragis.
Cerita dimulai dengan sebuah pengkhianatan. Nyo Kian berkhianat pada Cu Bong dengan menyeberang ke kubu Suma Jiau-kun. Peristiwa ini memicu perang terbuka antara Cu Bong dan Suma Jiau-kun yang sudah lama bermusuhan. Siau Ko, sang tokoh utama kita terjepit di antara dua kubu itu padahal ia sama sekali tidak berminat dengan perebutan kekuasaan. Satu-satunya ambisi yang ia miliki adalah mengadu jiwa dengan para jago dunia persilatan. Ia ingin membuktikan apa benar mereka yang mendapat julukan tak terkalahkan itu dapat lolos dari sabetan pedangnya yang telengas. Ia sudah membunuh empat tokoh kosen ternama dengan Pedang Tetesan Air Mata yang dimilikinya dan target selanjutnya adalah Suma Jiau-kun.
Karakter tiap tokoh dalam cerita ini menarik, termasuk tokoh yang cuma numpang lewat alias muncul hanya untuk mati. Menarik di sini bukan berarti nyeleneh dan selebor dengan wujud ajaib seperti yang sering muncul dalam cerita-cerita Khu Lung pada umumnya, tapi misterius dan penuh rahasia. Tidak ada tokoh yang benar-benar hitam atau putih, termasuk Siau Ko sendiri. Siau Ko memang misterius, tapi masih kalah misterius dari Siau Lay-hiat si pembunuh bayaran dengan senjata aneh berupa peti kayu. Tapi tokoh yang paling misterius adalah Cho Tang-lay. Cerita makin hidup tiap kali ia muncul. Khu Lung menggambarkan karakter tangan kanan Suma Jiau-kun ini dengan cara yang memikat. Bak mengupas bawang, selapis demi selapis, para pembaca mulai diperkenalkan siapa sebenarnya Cho-sianseng ini.
Alur cerita silat ini rapat dan rapi, penuh intrik dendam terpendam, cinta tak sampai, ambisi kuasa dan keserakahan. Banyaknya adu siasat memunculkan twist di sana-sini yang membuat kita ingin buru-buru menyelesaikan membaca buku ini. Yang melegakan, cerita diakhiri pada saat yang tepat, tidak menggantung dan tidak terburu-buru.
Bahasa saduran yang digunakan Tjan ID sangat enak dibaca. Luwes tanpa menanggalkan ke-witty-an gaya bahasa Khu Lung dan tidak terlalu njawani seperti Gan KL dan Gan KH. Selain itu cetakan bukunya pun lebih rapi. Ada daftar isi dan jarang sekali ditemukan kesalahan-kesalahan cetak seperti halaman kosong atau halaman tertukar yang sering muncul pada buku-buku cerita silat terbitan Pantja Satya.
Sayangnya cover buku ini merusak pemandangan. Sama sekali tidak cocok untuk cerita silat, terlalu kekanak-kanakan. Kalau tidak membaca judulnya, saya pikir ini manga (komik made in Japan). Entah wajah tokoh siapa yang dipilih ilustrator menjadi cover buku. Kalau melihat dada terbuka yang rata, sepertinya laki-laki. Tapi wajah pretty boy terlalu kemayu bagi karakter Siau Ko yang jantan dan cuek bebek. |
|
| |
[Semua Resensi Buku Ini] |
|