Display Buku
Boulevard de Clichy - Agonia Cinta Monyet
 
Rp 102.000
Hemat Rp 20.400
Rp 81.600

 
Apa itu Resensi?

Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
Resensi dari pratanti
 
  02 Agu 2007 - 11:33:42

Isi Resensi :
Boulevard de Clichy - Agonia Cinta Monyet


Sebagaimana layaknya karangan-karangan Remy Sylado yang lain, gaya bahasa dalam Boulevard de Clichy juga sangat lincah dan hidup, sehingga seakan-akan kita berada dalam situasi yang sedang diceritakan. Cerita yang bernuansa kehidupan di era reformasi ini banyak menceritakan tentang kondisi masyarakat kelas atas, diwakili oleh pejabat pemerintahan yang korup, dengan istri yang suka mengatur dan anak tunggal yang manja; serta Anugrahati (Nunuk), seorang penari yang nasibnya membawa ia bekerja di Boulevard de Clinchy, kawasan prostitusi di pelosok Paris. Bermula dari kehidupan remaja SMA, Nunuk dan Budiman diceritakan sebagai sepasang remaja yang rela melakukan segalanya atas nama cinta. Campur tangan ibu Budiman dengan bantuan opo-opo (guna-guna) membuat Budiman lupa akan perbuatannya terhadap Nunuk, bahkan melupakan Nunuk, gadis yang dicintainya. Sebagai anak orang kaya, Budiman melanjutkan sekolah di Perancis, tetap dengan gaya anak pejabat yang lebih suka menghabis-habiskan uang daripada menggali ilmu pengetahuan yang bisa diperolehnya disana. Sementara Nunuk yang punya keluarga di Belanda diceritakan memutuskan untuk membawa anaknya yang baru lahir dan tinggal bersama keluarga ibunya di Belanda, melanjutkan sekolah disana. Pertemuannya dengan seorang pencari bakat turunan Turki membawanya berkelana mencari pengalaman baru di Paris, Perancis. Kisah yang juga sama dengan pencari TKW yang mengajak perempuan desa ke kota, ataupun ke luar negeri dengan janji pekerjaan demi kehidupan yang lebih baik. Jalan cerita selanjutnya tidak terlalu sulit untuk ditebak. Kepintaran Nunuk membawanya menjadi bintang di Boulevard de Clichy dengan julukan Météore de Java. Tutur cerita yang secara detil menggambarkan situasi Boulevard de Clichy, maupun gambaran detil perilaku pelakon cerita serta perasaan-perasaan mereka, menjadi daya tarik utama dari novel-novel karangan Remy Sylado. Sayangnya akhir cerita yang terkesan terburu-buru dan terlalu dipaksakan membuat kekuatan cerita menjadi berkurang. Cerita Budiman dan Nunuk yang kembali lagi ke tanah air dan bertemu kembali setelah terpisah selama 5 tahun ternyata tidak dikisahkan sedetil dan seindah novel di bagian awal. Akhir cerita lebih berwarna “fairy tale”, seperti kisah putri upik abu yang disunting pangeran kaya-raya. Memang ini bukan kisah seribu satu malam, atau HC Andersen yang selalu mengatakan bahwa kejujuran dan kebaikan akan selalu menang, dan juga bahwa kemenangan dan kemuliaan bersumber dari usaha kerja keras dan penuh pengorbanan. Oleh karena itu sah-sah saja kalau jalan ceritanya menjadi demikian. Membaca bagian akhir buku ini tidak lebih dari sekadar ingin menuntaskan suatu pekerjaan yang sudah terlanjur dimulai, disertai harapan mudah-mudahan novel Remy Sylado berikutnya dapat lebih hidup dan mengasikkan sampai dengan akhir cerita.
Rating
+1 rating+1 rating+1 rating+0 rating+0 rating


 
 
[Semua Resensi Buku Ini]