|
Apa itu Resensi?
Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
|
|
|
| |
18 Des 2006 - 14:47:57
Isi Resensi : Labirin Feodalisme Jepang di Abad Pertengahan
Judul: Kisah Klan Otori ; Across The Nightingale Floor
Penulis: Lian Hearn
Penerbit: Matahari, 2005
Dari Imajinasi seorang penulis kelahiran Inggris yang menyamarkan namanya sebagai Lian Hearn, lahirlah trilogi “Tales of The Otori ”. Diracik dalam ramuan campuran antara cerita rakyat jepang abad pertengahan dan drama pertikaian antar klan, kita dibawa berkelana dalam Across the Nightingale Floor, yang dilanjutkan dengan Grass for His Pillow dan diakhiri dengan buku Briliance of the Moon.
Buku pertamanya, Across the Nightingale Floor terbit tahun 2002 dan mendapat tanggapan positif dari berbagai media internasional. Hak cipta untuk pembuatan film untuk trilogi ini telah dibeli oleh Kennedy Marshal dari Universal Pictures dan kini David Henry Hwang tengah mengerjakan naskah skenarionya.
Lian Hearn, penulis yang nama aslinya lebih dulu dikenal sebagai penulis novel dan drama anak-anak sengaja menyamarkan namanya dalam novel dewasa pertamanya ini. Pasalnya, ia ingin agar triloginya ini dinilai secara objektif tanpa menengok ke belakang untuk membandingkan Tales of The Otori dengan karya-karya terdahulunya yang disegmentasikan khusus untuk anak-anak. Nama Lian Hearn dipilih dari empat huruf terakhir nama kecilnya (Gillian Rubinstein) dan nama belakang seorang penulis Irlandia yang tinggal di Jepang pada akhir abad 19, Lafcadio Hearn.
Ketertarikan Hearn pada kebudayaan Jepang telah muncul sejak lama. Kepindahannya ke Australia membawanya semakin dekat dengan budaya Jepang. Tahun 1999, Asialink, sebuah lembaga Australia yang menjembatani studi banding dalam bidang seni dan budaya antara Australia dan negara-negara Asia, mengirimnya ke Jepang selama 3 bulan. Kunjungannya ini melahirkan empat tokoh utama rekaannya yang berkeliaran di kepala, mendesak-desak untuk mengada.
Otori Takeo, narator novel Across the Nightingale Floor adalah karakter yang ambivalen. Dibesarkan di tengah-tengah kaum Hidden yang cinta damai dan menyelesaikan masalah tanpa tikai, dihadapkan pada kenyataan genetis: bahwa dirinya adalah keturunan bangsawan Kikuta, anggota Tribe, sebuah kelompok pembunuh bayaran pragmatis yang setia hanya pada uang. Ambivalensi itu membuatnya selembut seperasa seniman lukis yang menyelamatkan seekor ngengat dari nyala api yang membakar, sedangkan di lain waktu ia malah membunuh manusia tanpa ragu sebagai seorang Tribe.
Takeo, yang 15 tahun pertamanya dihabiskan sebagai Tomasu, putra Hidden di Mino, sekte minoritas penganut kepercayaan terlarang pada saat itu. Kaum yang hidup gotong royong dan jauh tersembunyi dari Ibukota yang ramai oleh perang antar klan ini percaya bahwa Tuhan yang satu memandang semua manusia sama dan tidak terbelah-belah dalam sistem kasta. Saat itu, klan yang paling berkuasa adalah Klan Tohan yang dipimpin oleh Iida Sadamu yang kejam dan berdarah dingin. Sejak lama Iida ingin melenyapkan kaum Hidden dari muka bumi. Ketika bocah Tomasu pergi bermain ke bukit, ia kembali mendapati desanya hancur berpuing. Jeritan anak-anak dan wanita yang ketakutan bersahutan dengan suara tawa para prajurit Tohan memenuhi gendang telinga. Mayat-mayat berlumur lumpur dan darah menghitam bergelimpangan di jalan. Aroma dari daging dan kayu terbakar menyesaki penciuman.
Ketika diburu anak buah Lord Ida Sadamu karena tanpa sengaja mengakibatkan pemimpin klan Tohan itu terjatuh dari kudanya, Tomasu diselamatkan oleh Lord Otori Shigeru, seorang bangsawan pewaris tahta klan Otori yang kelak mengangkat Tomasu sebagai anaknya dan mengganti namanya dengan Takeo.
Bersama Otori, Takeo belajar ilmu bela diri dan berbagai ilmu rahasia untuk membalaskan dendamnya dan dendam sang ayah angkat kepada Iida Sadamu. Trauma karena kehilangan keluarga membuatnya berhenti berbicara. Namun, keengganannya berbicara ini malah membuat indera pendengarannya lebih peka. Warisan genetik Kikuta juga membuatnya dapat melakukan proyeksi astral, yakni membagi tubuhnya di dua tempat dalam waktu bersamaan.
Selain deskripsi kehidupan Takeo yang sangat maskulin, Hearn juga membawa isu-isu patriarki yang masih kental di jaman abad pertengahan. Perempuan dijadikan komoditi yang menguatkan klan tertentu. Kaede, putri pemimpin Klan Shirakawa yang takluk oleh Klan Tohan ditawan di kastil Lord Noguchi untuk kelak dimanfaatkan sebagai penguat klan Tohan. Tokoh Kaede bagi Hearn adalah persembahan bagi semua pahlawan wanita Jepang yang luput dari catatan sejarah. Mereka hanya dikenal sebagai “onna”:perempuan, yang tak pernah dikenal dengan namanya sendiri. Kaede adalah sosok feminin namun kuat dan cerdas di tengah-tengah sistem patriarki yang mengombang-ambing nasibnya.
Intrik-intrik konspirasi politik antar petinggi klan, pengkhianatan, kekerasan, pembunuhan berdarah dingin, diwarnai juga dengan kisah cinta berliku antara Takeo dan Kaede, Lord Shigeru dan Lady Murayama.
Para tokoh protagonis bersatu padu demi menghancurkan kekuatan jahat Iida Sadamu. Satu demi satu korban berjatuhan. Lord Tohan yang sangat menyadari dirinya sebagai target pembunuhan, mendesain sebuah lantai bernyanyi. Tak seorangpun mampu melewati lantai menuju kamar tidur Lord Iida itu tanpa membuatnya berbunyi—kecuali Takeo.
Hearn mengemas novelnya dengan membangun suspense yang berlanjut hingga sulit melepas mata kita dari rangkaian hurufnya sebelum halaman terakhir habis di baca. Hearn membuat Jepang sangat nyata dalam fantasinya.*jie |
|
| |
[Semua Resensi Buku Ini] |
|